trie
welldan
Jalaluddin Rumi Prasad
yudhimahendra
m aan mansyur





FESTIVAL FILM DOKUMRNTER 2007
Selasa, 01 Agustus 2006

Program Festival Film Dokumenter 2007

FFD 2007 yang merambah tema besar di bidang lingkungan, kebudayaan, dan kehidupan menampilkan perspektif “Documentary for Humanity” dengan semangat untuk menggali berbagai persoalan berbangsa dan bernegara, menelaah dan mengolahnya agar menjadi perhatian bersama, dan menemukan titik tolak dan landasan bagi upaya-upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik. Perspektif ini akan disajikan dalam bentuk pemutaran film-film Indonesia dan internasional yang menampilkan beraneka genre dan tema, dengan isu utama: agama, bencana, keragaman budaya, dan isu-isu kota.

Program Festival Film Dokumenter 2007
Paparan Ringkas:
FFD 2007 yang merambah tema besar di bidang lingkungan, kebudayaan, dan kehidupan menampilkan perspektif “Documentary for Humanity” dengan semangat untuk menggali berbagai persoalan berbangsa dan bernegara, menelaah dan mengolahnya agar menjadi perhatian bersama, dan menemukan titik tolak dan landasan bagi upaya-upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik. Perspektif ini akan disajikan dalam bentuk pemutaran film-film Indonesia dan internasional yang menampilkan beraneka genre dan tema, dengan isu utama: agama, bencana, keragaman budaya, dan isu-isu kota.
Agenda-agenda yang diprogramkan dalam FFD 2007 adalah: Kompetisi Film Dokumenter Indonesia, perspektif, spektrum, school docs, dan kegiatan pendukung lainnya, dengan materi pemutaran film dokumenter terbaik dan alternatif Indonesia dan internasional, diskusi, workshop, klinik film, presentasi publik, temu komunitas, dan yang lainnya.
Penerimaan karya kompetisi dimulai sejak bulan Juli 2007 dan ditutup pada Oktober 2007. Puncak acara festival dilaksanakan pada 10-15 Desember 2007.

Apa? FFD 2007!
Festival Film Dokumenter sampai saat ini adalah satu-satunya festival film permanen di Indonesia yang khusus menangani film dokumenter. FFD dilaksanakan secara rutin setiap tahun di bulan Desember berturut-turut semenjak tahun 2002. FFD 2007 adalah penyelenggaraan yang ke-6, masih tetap dengan visi untuk terus memberi ruang bagi aktivitas penciptaan, apresiasi dan sosialisasi, juga pendidikan di bidang film dokumenter dalam arti yang seluas-luasnya. Berangkat dari semangat berkarya, dibimbing dengan nilai-nilai gotong royong, dipandu oleh harapan untuk terwujudnya kehidupan seni, budaya, dan kreatifitas yang lebih baik, FFD 2007 akan dilaksanakan dengan program-program yang semakin terarah, yakni: Kompetisi Film Dokumenter Indonesia, Perspektif, Spektrum, School Docs, dan program-program pendukung lainnya.

Mengapa Film Dokumenter?
Film dokumenter seringkali disamakan dengan film sejarah dan sekaligus film yang benar-benar terjadi (realis), bukan fiksi dan rekaan. Tanpa perlu lebih jauh membahas definisi dan pengertian yang demikian itu, pandangan umum ini sesungguhnya memunculkan kekuatan besar bagi film dokumenter untuk menggali, memaparkan, dan memberikan wacana baru atas berbagai hal yang ada di masyarakat. Masyarakat umum akan merasa terwakili dan sekaligus memahami persoalan yang ada, baik di lingkup sekitar mereka maupun yang bersifat lokal, nasional, dan global.
Selain itu, film dokumenter adalah satu genre seni audio-visual yang memiliki sifat demokratis sekaligus personal. Dengan ruang kreatifitas yang terbuka luas, yang tidak terbatas sebagai produk industri media dan hiburan, film dokumenter memberi kesempatan kepada semua orang untuk menampilkan diri, baik sebagai kreator maupun objek film. Film dokumenter juga memungkinkan kreator film memunculkan karya yang unik, orisinil, dan khas, yang tidak terkerangkeng oleh stereotype karya-karya film dari dunia industri hiburan. Dengan karakteristik yang demikian itu, film dokumenter menjadi karya yang bersifat alternatif, baik dari segi ideologi, isi, maupun bentuk, sehingga mampu menarik minat masyarakat umum, dan terutama anak muda.
Dalam tataran yang lebih jauh, film dokumenter sesungguhnya telah berjalan dengan baik, antara lain dengan adanya kebutuhan bagi karya-karya film dokumenter yang bersifat advokasi, akademik, dan kultural, yang sebagian telah melanglang ke berbagai penjuru dunia dan memenangkan penghargaan dari festival-festival film internasional. Di lingkungan industri media, film dokumenter juga bermetamorfosis dalam berbagai bentuk film dokumenter dan semi-dokumenter, misalnya film perjalanan dan petualangan, profil tokoh, maupun feature dan investigative.

Dokumenter dan Kemanusiaan
Bangsa Indonesia saat ini berada pada titik nadir kegelapan. Ada begitu banyak persoalan yang tak juga sampai ke ujung penyelesaian. Bencana alam datang silih berganti, bencana sosial tak juga berhenti, bencana terus-menerus mendera dan menjadi derita bagi seluruh rakyat Indonesia. Gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, lumpur panas Sidoarjo, banjir dan tanah longsor, kecelakaan pesawat udara-kapal laut-kereta api, konflik poso dan terorisme, korupsi, kriminalitas, pengangguran, dan masih banyak lagi.
Kehidupan sosial masyarakat berada pada situasi yang mencemaskan. Berbagai peristiwa dan pengalaman pahit dari bencana dan derita yang terus-menerus yang demikian itu dapat berakumulasi menjadi frustasi dan trauma sosial yang berlarut. Terlebih dalam kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang kini kian carut-marut: pemerintahan yang sempoyongan menghadapi sekian banyak persoalan, legislatif yang tidak bisa diharapkan, hukum yang tak juga bisa dijadikan pegangan, agama yang disangkutpautkan dengan terorisme dan konflik lokal dan global, pranata-pranata sosial dan adat yang semakin tidak berdaya dalam kehidupan yang semakin individualis dan materialis, dan lain sebagainya.
Komunitas Dokumenter sebagai pemikul mandat kelangsungan penyelenggaraan Festival Film Dokumenter (FFD) memandang latar belakang situasi Indonesia yang memprihatinkan itu layak untuk diangkat ke permukaan. Perlu ada gerakan yang membuat kita semua memiliki perhatian dan keprihatinan atas persoalan-persoalan bangsa, untuk kemudian berperan dalam menemukan solusi dan menjalankan aksi, sekecil apa pun itu. Penggalian kembali nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, persaudaraan, kepekaan sosial, dan keluhuran hidup harus terus dilaksanakan, sampai kita temukan kembali pemandu bagi kehidupan kita sebagai individu, bangsa, dan umat manusia, yang damai dan tercerahkan.

Kompetisi Film Dokumenter Indonesia
Program Kompetisi Festival Film Dokumenter Indonesia adalah salah satu rangkaian festival yang dirancang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan bagi karya-karya terbaik yang dihasilkan oleh para kreator. Kompetisi film dokumenter FFD diharapkan menjadi barometer dalam penyelenggaraan festival sejenis dan menjadi ajang uji karya bagi para kreator dengan hadirnya para juri yang berasal dari beragam latar belakang dan keahlian, yang mumpuni dan/atau dapat merepresentasikan latar belakang masing-masing.
Dewan juri terdiri dari para profesional, akademisi, dan praktisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Kompetisi dibagi dalam dua kategori, yakni Kategori Pemula/Amatir dan Kategori Umum/Profesional. Kompetisi membuka ruang yang seluas mungkin bagi berbagai bentuk dan jenis karya film dokumenter.
Kompetisi Film Dokumenter Indonesia FFD 2007 akan memilih 10 film finalis dari masing-masing kategori untuk memperebutkan penghargaan sebagai film terbaik FFD 2007. Selain penghargaan film terbaik, FFD 2007 juga akan memberikan penghargaan film pemenang pilihan juri komunal pelajar Yogyakarta dan penghargaan khusus untuk film-film terpuji di bidang multikulturalisme, lingkungan, sosial-budaya, dan lain sebagainya. Para pemenang akan mendapatkan piala, piagam, uang tunai, dan hadiah lainnya.

Latar Belakang
Festival ini pertama kali dilaksanakan pada 2002, pada awalnya berangkat dari keprihatinan atas kehidupan dunia perfilman Indonesia, yakni perkembangan film secara umum dan terutama media televisi. Keprihatinan ini memunculkan gagasan untuk membuka ruang bagi mereka yang memiliki perhatian dan potensi untuk memberi kontribusi bagi kemajuan perfilman, pertama: siapa saja bisa dan berhak mencoba dan membuat film, kedua: siapa sajakah yang terpanggil untuk mengambil peran, dan yang ketiga: seberapa kemungkinan kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas perfilman Indonesia.
Film dokumenter dipilih sebagai fokus kegiatan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, film dokumenter adalah pondasi dasar dalam pengembangan kemampuan teknis dan akademis bagi para filmmaker. Kedua, film dokumenter memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi, terutama di bidang sosial dan kultural. Ketiga, sebagai genre film inti yang penting dan potensial, film dokumenter adalah genre yang selalu luput dari perhatian, baik di media televisi maupun di antara beraneka festival film Indonesia, baik festival-festival independen maupun festival internasional.
Dengan latar belakang yang demikian itu, Festival Film Dokumenter dilaksanakan dengan kegiatan utama kompetisi film dokumenter dan kegiatan pendukung pemutaran film dokumenter. Kegiatan-kegiatan selain kedua program tersebut dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, apresiasi, dan ketrampilan teknis masyarakat umum dan filmmaker, yakni diskusi publik, klinik film, workshop, dan lain sebagainya.
Kompetisi Film Dokumenter Indonesia, Festival Film Dokumenter 2007
Kompetisi Film Dokumenter Indonesia adalah program utama Festival Film Dokumenter 2007 yang dirancang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan bagi karya-karya terbaik yang dihasilkan oleh para kreator. Kompetisi ini diharapkan menjadi barometer dalam penyelenggaraan festival sejenis dan menjadi ajang uji karya bagi film-film dokumenter Indonesia mutakhir dan terbaik.
Kompetisi dibagi dalam dua kategori, yakni Kategori Pemula dan Kategori Umum. Kompetisi Kategori Pemula/Firsttime Filmmaking bertujuan untuk memberikan stimulan kepada anak muda/filmmaker pemula untuk mulai berkreasi atau memproduksi film dokumenter, sedang Kompetisi Kategori Umum/Profesional bersifat terbuka untuk umum, baik profesional independen, rumah produksi, LSM, televisi dan lembaga media, maupun institusi khusus lainnya.
Salah satu poin penting pada program kompetisi ini adalah kami mengundang 100 pelajar SLTA dan mahasiswa untuk mengapresiasi karya-karya film peserta Kompetisi. Para juri komunal ini akan duduk sebagai anggota juri komunal. Kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari visi dan misi festival ini, yaitu melakukan edukasi publik tentang film dokumenter melalui kegiatan apresiasi secara langsung. Sebelum proses penjurian komunal dilaksanakan seluruh anggota juri komunal ini akan diberi pembekalan melalui workshop apresiasi film dokumenter.
Sedangkan untuk penjurian utama akan melibatkan pakar-pakar yang berkompeten di bidang film dokumenter yang ditunjuk secara khusus oleh panitia dengan latar belakang yang beragam, baik praktisi maupun akademisi. FFD 2007 akan mengundang juri, antara lain: Curtis Levy (Australia), Mark Achbar (Canada), PM Laksono (Indonesia), Leonard Retel Heimrich (Belanda), Garin Nugroho (Indonesia) , JB Kristanto (Indonesia), Budi Irawanto (Indonesia) , dan M Zamzam Fauzanafi (Indonesia).
Peraih penghargaan pada kompetisi ini akan mendapat hadiah berupa piala dan uang tunai, khusus untuk peraih penghargaan kategori firsttime filmmaking mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop yang diselenggarakan Forum Film Dokumenter secara gratis.

Perspektif: Humanity
Tahun-tahun terakhir ini menjadi masa yang sangat berat dan rawan bagi kelangsungan hidup bangsa dan rakyat Indonesia. Bencana alam, kecelakaan transportasi, kemiskinan dan kelaparan, korupsi dan kriminalitas, sumber daya alam yang dijarah tanpa arah, nilai-nilai spiritual yang kian terdegradasi, dan sekian banyak persoalan lainnya. Di sisi yang lain, masyarakat masa kini hidup karakteristik yang semakin individual dan materialistik. Pada akhirnya, kepekaan dan kepedulian sosial berada pada titik yang mencemaskan. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik sosial yang semakin lama semakin memprihatinkan. Masing-masing individu dan pihak memaksakan kepentingan sendiri, tak peduli pada derita yang lainnya. Kepedulian terhadap sesama manusia berubah menjadi kepedulian yang bersifat statistik dan sejenak saja. Bencana adalah ketika jumlah korbannya ribuan atau puluhan ribu orang, sedang tetangga yang kelaparan dan anak-anak yang berkeliaran di jalanan tidak masuk dalam hitungan.
Nilai-nilai luhur kemanusiaan menjadi titik tolak yang harus kembali dihidupkan di negeri yang koyak-moyak ini. Humanity, humanisme, humanitas, kamanungsan, kemanusiaan, keberadaban, atau apa pun namanya boleh jadi adalah hal pertama yang harus kembali kita gali, kita pelajari, dan kita tebarkan untuk mengurangi derita sesama, menyembuhkan duka diri sendiri, membangkitkan anak-anak bangsa menuju masa depan cemerlang.
“Humanity”, sebagai perspektif FFD 2007 memiliki semangat untuk menggali berbagai persoalan berbangsa dan bernegara, menelaah dan mengolahnya agar menjadi perhatian bersama, menemukan titik tolak dan landasan bagi upaya-upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik. Perspektif ini akan disajikan dalam bentuk pemutaran film-film Indonesia dan internasional yang menampilkan berbagai isu, yakni agama, bencana, keragaman budaya, dan isu-isu kota.
Kehidupan beragama yang berada dalam ketegangan antara terorisme, fundamentalisme, dan sektarianisme. Bencana, yang dapat berwujud dalam bentuk bencana alam, bencana konflik dan perang, bencana sosial berupa kelaparan dan degradasi nilai, adalah tema yang sangat penting untuk dipaparkan.
Dalam konteks kehidupan yang kian kompleks, dengan budaya global dan migrasi ekonomi dan sosial yang kian laju, persoalan keragaman budaya (cultural diversity) menjadi hal yang harus segera menjadi perhatian bersama. Terlebih dengan adanya konflik kepentingan yang semakin meruncing sebab adanya tingkat persaingan yang semakin tinggi, yang bisa dibelokkan menjadi persoalan etnis dan ras. Juga permasalahan yang timbul dengan adanya gegar budaya sebab laju teknologi yang tidak diimbangi dengan pendidikan dan pembelajaran yang sesuai.
Persoalan yang tidak ada habisnya dan bahkan kian membesar antara lain disebabkan kurangnya pemahaman dan penanganan yang baik dari pemerintah adalah isu-isu masyarakat kota (urban issues). Urbanisasi, industrialisasi, pemusatan modal dan kapital di kota-kota besar berbanding sejajar dengan menumpuknya sekian banyak masalah: kemiskinan, perburuhan, sampah, kriminalitas, dan lain sebagainya.

Encourage Indonesian Documentary
Program ini adalah kompilasi lima hari workshop, diskusi, klinik film dan sharing dengan expert dokumenter nasional dan internasional. Dirangkai dalam Master Class yang mengundang 30 partisipant dari sutradara yang masuk nominasi seksi kompetisi dan 10 observer yang disaring panitia.
Program ini diharapkan dapat memberikan wacana baru, memperkuat pengetahuan dan ketrampilan teknis dan estetis, meningkatkan apresiasi dan mendorong perkembangan film dokumenter Indonesia. Tujuan utama program ini adalah penguatan filmmaker muda indonesia, membangun kultur dokumenter, membangun jaringan antar filmmaker muda nasional dan international expert.
Program ini direncanakan mengundang Mark Achbar (Canadian Filmmaker, Director and Producer of “The Corporation”), Rakesh Sharma (Indian Filmmaker, Director of “Final Solution” and “After Shock”), Leonard R Helmrich (Dutch Filmmaker, Director of “Shape of the Moon”, Promised Paradise”), dan filmmaker senior Indonesia: Garin Nugroho, Aryo Danusiri, dan Lexy Jr Rambadetta.
Master Class Dokumenter Indonesia diadakan sebagai rangkaian program Kompetisi Film Dokumenter Indonesia pada Festival Film Dokumenter. Selama 5 hari, nominator atau finalis dari dua kategori kompetisi FFD akan bertemu dan menimba ilmu kepada 3 orang pakar film dokumenter internasional yang khusus diundang untuk memaparkan pengalaman dan pengetahuannya kepada pembuat film dokumenter Indonesia. Selama program ini berlangsung, peserta Master Class juga akan ditemani oleh tokoh-tokoh senior film dokumenter nasional sebagai pendamping selama proses pelatihan berlangsung. Program ini terbagi dalam tiga kelas yang akan membahas elemen-elemen dasar dalam film dokumenter, yakni: Kelas Riset dan Pra-produksi, Kelas Produksi, dan Kelas Pasca Produksi.

Peserta
Program ini akan diikuti oleh 20 peserta terpilih dari nominasi kompetisi film dokumenter kategori pemula dan kategori umum, ditambah 10 peserta undangan sebagai peninjau. Penyelenggara akan memberikan subsidi biaya transportasi dan akomodasi peserta selama program berlangsung.

Tujuan Akhir Program Master Class
1. Memberikan dorongan bagi pembuat film dokumenter Indonesia. Program ini bertujuan untuk membangun kepercayaan diri pembuat film dokumenter Indonesia dan memberikan nafas segar bagi iklim dokumenter Indonesia yang masih terpinggirkan.
2. Membangun tradisi dokumentasi. Film dokumenter sebagai alat untuk merekam sejarah kadang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Peserta program diharapkan mendapatkan pemahaman mengenai pendokumentasian sejarah dari pembicara-pembicara yang diundang.
3. Menguatkan jaringan dan hubungan antara peserta dengan pembicara. Kelas-kelas yang terjadi pada akhirnya diharapkan membentuk jaringan di antara peserta, antara peserta dengan pembicara, dan antara peserta dengan penyelenggara festival lainnya. Program ini juga dapat menjadi jembatan untuk memperluas jaringan pembuat film dokumenter Indonesia dan publikasi film dokumenter internasional.
4. Kepekaan sosial. Program ini diarahkan untuk menggugah kepekaan sosial peserta untuk merespon dan berinteraksi dengan isu-isu aktual yang ada di lingkungannya, menarik benang merah dengan isu-isu global masa kini, dan dan merangkum semua itu dalam bentuk film dokumenter.

School Docs.
Ada banyak peristiwa dan fenomena yang muncul dalam relasi antara masyarakat dan media audio-visual. Salah satu persoalan mendasar yang harus segera dipecahkan bersama adalah bimbingan dan pendidikan bagi anak-anak usia sekolah agar media audio-visual menjadi media yang berperan untuk mendukung perkembangan masa depan mereka. Ketiadaan pendidikan media, dapat diistilahkan sebagai tingkat kecerdasan media, adalah salah satu aspek yang akan sangat berpengaruh bagi kemajuan dan perkembangan masa depan masyarakat masa kini. Tingkat kecerdasan media ini antara lain terwujud dalam kemampuan untuk mengapresiasi, mengkritisi, dan memahami karya audio-visual sebagai produk teknologi dan budaya.
Film dokumenter adalah dasar dari perkembangan karya-karya audio-visual, selain merupakan genre yang memiliki ruang sangat luas bagi pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan bagi para peserta untuk menggapai kecerdasan media dan menjadi titik tolak untuk meningkatkan kemampuan apresiasi di bidang audio-visual, yang selanjutnya dapat dijadikan bekal untuk memperkuat tingkat kecerdasan media anak-anak dan pelajar untuk menghadapi serbuan media yang mengglobal.
Kegiatan-kegiatan dalam program school docs ini adalah: screening film dokumenter untuk anak-anak dan pelajar (siswa SD dan SMP), workshop apresiasi dan kritik film untuk pelajar (SLTA) dan mahasiswa, penjurian komunal pelajar (SLTA), dan lomba kritik film dokumenter untuk pelajar (SLTA).

Spectrum
Film dokumenter memiliki potensi besar untuk dieksplorasi dan dikembangkan, baik pada aspek produksi maupun apresiasi. Pada aspek produksi, kekayaan alam dan budaya Nusantara yang sangat beragam memungkinkan eksplorasi estetik dan tematik untuk menghasilkan karya-karya yang bisa mewakili bangsa ini di kancah dunia.
Pada tataran apresiasi, ada ruang kosong dalam dunia audio-visual Indonesia bagi kehadiran film dokumenter di antara materi-materi audio-visual yang selama ini hanya dihasilkan oleh produk-produk industri besar
Program spektrum ini akan merangkum karya-karya film dokumenter yang beragam, terutama film-film internasional yang dapat dijadikan sebagai referensi dan bandingan bagi perkembangan film dokumenter Indonesia. FFD 2007 mencoba untuk menampilkan film dokumenter pendek, eksperimental, cinema observational, participatory video, dan beragam bentuk dokumenter lainnya. Selain itu, karya-karya anak negeri yang khas, baik tema maupun proses produksinya—misalnya film dokumenter anak, film dokumenter partisipatory, dll.— juga akan ditampilkan dalam program ini.













Copyright 2004, Komunitas Dokumenter, Powered by: THINKNOLIMITS